Friday, April 11, 2025

Kupang for Chill & Pork Lover | NTT, Indonesia

Have you ever been to East Indonesia? I believe most of people havent been there even the local Indonesian like me haha. Yes, it was my first time to touch East Indonesia and I start it from Kupang, the capital of Nusa Tenggara Timur Province. 

It such a 冷門景點 unpopular destination and why I start here is because its not my destination for this trip, my destination is Sumba but there is no direct flight from Jakarta, the only one I found is Jakarta - Kupang - Sumba or Jakarta - Bali - Sumba, so of course I choose through Kupang as I haven't been there hehe. No rugi rugi club haha. 

Btw you know this time I decide to go to Sumba because at the beginning the original plan was Laos and back thru Bangkok then suddenly the flight become so expensive and found a voluntrip that always on my bucket list years ago. Then I see the news Bangkok earthquake and here I am coming to east Indonesia. 

I have my (not really) 3 days in Kupang OMG its because the flight to Sumba reschedule to the next day so I need to stay in Kupang one more night oke lah, sometimes God gives another way because you can’t see the future but He can, cieeee, so I guess my Kupang stay would be awesome. 

Searching for open trip or walking tour here is totally unable to found. Seems Kupang is a transit city and less people will have city tour, I ask few trip provider all only have private trip or suggest me to rent car with driver. Mostly if people join the trip they will go to Rote Island. 

Touch down El Tari International Airport you can feel the different ambience, less people, bright sun and even the queue for taxi ride is empty haha. You can use grab from the airport but anyway it same with directly take the taxi because the airport taxi operate by Koperasi and they are the only who can take grab order from airport but when they send passenger out of airport they cant take another passanger go to airport or other places, they need to come back to the aiport.

El Tari is the name of NTT governor back then in 1926 - 1978

So basically after my research, what to do in Kupang is : chill, eat pork, enjoy the beach. 

When you find for an accomodation in Kupang here is my suggestion :

  • With breakfast : Not really easy to find some breakfast, there are pork noodle for breakfast but its not that easy unless near your hotel have the resto 
  • Near the sea : You can choose sea view room or the hotel directly on the beach 
  • Mostly they 

This time I stay in 2 hotel : Neo Hotel Kupang & Swiss-Bellcourt Kupang. The reason was Neo Hotel is near the airport and I got IDR 3xxK for balcony sea view room and they let me early check in but at first the ready one is block by wall then what’s the purpose of having sea view so I ask to change to other room. Overall it’s just nice with the view and balcony like very worth the price and have drinking water dispenser but for the cleanliness so so or even a bit dirty. For breakfast I do think so so. 

I got the room on the right at the first, so pls make sure you got the room with real sea view





Swiss-Bellcourt Kupang is very nice with the location directly on the beach and have semi outdoor lobby & resto. The only reason I choose this hotel just because I want to have sunset but lazy to have it in the beach so the answer is to have a hotel by the sea then you can have sunset directly. Breakfast is a bit downgrade since this is Swiss-Bell. Cleanliness also not really clean, it just a place where you can buy sunset seat. 



not color editing, the original sunset in Kupang that time is this pinky

Storm before & after the sunset

Cant stop even blink so fast because the sunset is so adorable

Grab is very common here complete from grab car, grab bike, grabfood it’s easy to get in Kupang but the fare is not that cheap compare to other county in Java, the fare is more similar to Jakarta. 

Grab car here mostly dont use AC and have timor style music haha. But they all kind, at least all grab driver I met all very nice even we can have small talk. One of it was the crew in Neo Hotel and asking my review about it so they can improve, another one is Javanese and move to Kupang because his wife, and other interesting story. 

Tirosa Statue (Timor Rote Sabu)

Kupang do have mall, I visit Lippo Plaza Kupang.


Nah come to the part that I love about Kupang other than sunset is the food woohoo!!!!!

Se’i is the must eat in Kupang, there are pork & beef se’i of course I repeat the pork se’i. The famous one is Se’i Babi Baun, the first se’i in Kupang and it taste more smokey. 

I do try se’i babi Hoki but as you can see even there are 3 se’i babi in a row so if you are really hungry just try one to another haha. 


green beans with pork bone soup, papaya flower & sweet potato leaves, fried noodle

Babi Bakar & Rumpu Rampe so this is grilled pork & kinda leaves mix together (daun pepaya, daun singkong, jantung pisang, daun kelor). 


La Moringa is one of the interesting place in Kupang, Originally come from Kupang they sell various food, gelato, snack, drink all ingredients with moringa (daun kelor). And guess what I got treat by La Moringa what a day! The drink is very fresh feeling & the moringa gelato is very unique taste, love it. 

They also sell some snack like sorghum, flour from east Indonesia to substitute with rice. 



Before heading back to airport, luckily I found Casa Italia Kupang, OMG so so good. They sell thin crust pizza and have pork topping. Don’t forget to try the fresh orange juice with yakult and condensed milk. I really can sit long time here in outdoor area very chill. 



So overall how I rate Kupang? Worth to visit once a lifetime, a place for pork lover, very hot, suitable for introvert and quiet but have the convenience of big city. 

Thank Kupang and I’m heading to Sumba. 




Sunday, April 6, 2025

Tanah Abang, Tanah-nya Si Abang Cuman di Hari Sabtu | Jakarta, Indonesia

Kalau sebut Tanah Abang apa yang ada di pikiran? Sumpek, sesek, banyak dagangan, bisa nyasar kalo masuk dari pintu mana keluarnya udah beda pintu haha. Tapi keknya terakhir kali ke Tanah Abang itu pas udah lama banget like pas masih SD buset dah nah kali ini kesini buat tau sejarah-nya as my 13th walking tour with @jktgoodguide yeay

Jadi apa arti nama Tanah Abang? Konon katanya dulu disini adalah gunung tanah yang warna-nya merah saking kentalnya darah bekas geger pecinan nah disebut Tanah Abang karena orang kalau mau kesini sebutnya tuh ke tanah-nya si Abang, another versi adalah katanya dulu disini banyak pohon Nabang sejenis palem tapi karena orang Belanda apa apa di tambah de jadilah disebut Denabang or Tenabang lalu pada saat mau bikin stasiun kereta mau dibuat namanya Tenabang orangnya mikir hah Tenabang, Tanah Abang kali ye, yaudah sejak saat itu jadilah Tanah Abang. 

Disini ada kali Krukut yang juga suka dikenal dengan Inspeksi Ciliwung. Nah kenapa namanya Krukut? Karena krukut berasal dari bahasa belanda yang artinya kuburan, dulu deket sini ada kuburan belanda. 

Nah tau kan kalau Tanah Abang adalah pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara, deket sini juga ada Museum Tekstil yang suka ada tema pameran-nya tiap bulan ganti - ganti. Konon dulu-nya ini bangunan udah berpindah - pindah tangan dari orang Turkey, ke pengusaha Chinese, dan akhirnya dihibahkan untuk jadi museum dengan koleksi pribadi owner-nya 500 kain mahal. Unik-nya pohon - pohon yang ditanam di halaman museum ini semua adalah pohon untuk pewarna tekstil alami seperti kunyit, secang, etc. 

Kalau ke pasar Tanah Abang sendiri mulai dari JPM (Jembatan Penyebrangan Multiguna) ini menurutku jadi berantakan ya sekarang jadinya agak banyak sampah even di tangga penyebrangan. Disini ada 446 kios di jembatan tersebut. Kalau ditanya ramai apa gak, kemarin pas 1 hari sebelum lebaran sih gak rame ya tapi emang berasa agak kotor bukan tempat nyaman untuk belanja for me ketimbang sama pasar malam gitu ini lebih berasa sumpek dan gelap. 

Tapi unik-nya ternyata di belakang Tanah Abang ini ada kelenteng haha. Unik banget gak perpaduan hidden gems ini. 

Arah Tanah Abang ke Karet ada mesjid yang udah dari baheula juga yang asalnya empunya orang Turkey dan akhirnya tanah-nya adalah tanah yang diberikan warga sekitar untuk mesjid ini. 

Nah point terakhir adalah Pasar Kambing. Tau gak kalau dulu sepanjang jalan dari Tanah Abang sampai Jalan Sabeni ini semua jualan kambing tapi sekarang cuman sisa yang di Jalan Sabeni aja. Sabeni juga tokoh betawi ahli silat loh ges. 

Jadi kira - kira gitu untuk cerita Tanah Abang-nya, gimana akhirnya tau another version of cerita Tanah Abang gak biar gak cuman tau tempat beli pakaian aja hehe. 

Monday, March 31, 2025

Pasar-nya si Master di Jatinegara | Jakarta, Indonesia

Libur lebaran hari pertama dimulai dengan walking tour ke-12 @jktgoodguide menjelajah timur Jakarta yaitu Jatinegara. Kayaknya ini pertama kali beneran menginjakkan kaki ke Jatinegara loh dan naik transjakarta sampe ke Jaktim dari Jakbar wahahah berasa transjakarta beneran murce sejauh ini cuman 3500 perak ditambah hari pertama libur yang menandakan Jakarta uda sepi dan lowong senangnya gak sampai 1 jam udah sampe di Jatinegara. 

Stasiun Senen keren deh luas dan integrated

Apa arti nama Jatinegara? Ada 2 versi yang pertama katanya dulu disini banyak pohon jati pas masih hutan jadi disebut Jati-negara, nah kalau versi kedua-nya Jatina Nagara dalam bahasa Sunda yang artinya kekuatan negara, negara yang sejati.

Nama trip kali ini adalah Passer Meester dalam bahasa Belanda yang artinya pasarnya si master. Siapakah master-nya? Meester Cornelis Senen yang dulu ‘membuat’ si pasar Jatinegara ini, beliau dulu adalah seorang master yang dihormati. Tapi jangan salah kalau doi bumiputera bukan orang Belanda tapi keturunan orang kaya asal Perancis dari Pulau Lontar, cuman pas dibaptis dulu suka dikasih nama Cornelis gitu pada jamannya. Dan beliau gak ada hubungannya sama Pasar Senen ya karena jaman-nya 100 tahun setelah adanya Pasar Senen hehe. 

Ada patung disini yang udah dari tahun 80-an patung ini mengartikan perjuangan saat itu gak cuman orang dewasa tapi anak - anak juga berjuang. 

Disini ada Akademi Militer Oerip Soemohardjo yang merupakan sekolah TNI pertama yang melahirkan militer - militer kita sekarang. Dulu-nya rumah - rumah jadul ini bagian dari sekolah akademi tersebut. Mungkin kalian pertama kali denger nama Oerip Soemohardjo kayak aku karena biasa dengernya Jendral Sudirman. Ternyata dulu mereka saingan karena Oerip orang yang andil dalam TNI tiba - tiba datanglah Sudirman yang masih muda dan memenangkan kedudukan hanya dengan beda 1 suara aja saat itu udah kayak 空降兵 gitu ceritanya tapi tetep aja pas perang Oerip yang membantu Sudirman karena emang “skill” nya diakui. 

Gereja Koinonia ini unik selain karena bangunan-nya udah dari 1889 yang termasuk gereja tua di Batavia juga, disini ada uniknya kalau lagi idul fitri, apa itu?


Nah suasana lebaran disini ada sholat penuh banget gini tapi kiblatnya kebetulan ngadep ke arah halte busway kalau ngadep ke gereja tar bingung arrangement nya haha *pas tour guide-nya ngmg gini ketawa semua mikir dimana imam-nya buat sholat sebanyak orang gini

Jalan dikit kita melewati Kantor Pos Jatinegara yang masih ada kotak pos-nya dari jaman Belanda di 1913. Nah dimana kantor pos tertua di Batavia? Yaitu ada di bekas gedung VOC seberang mercusuar miring yang ada di Sunda Kelapa. 


Baca juga cerita : Jalan - jalan di Sunda Kelapa

Sebenernya aku berasa pos indonesia tuh masih ada ruang untuk dikembangkan, kayak plafon-nya masih tinggi tapi mungkin butuh orang - orang yang beneran ingin mengembangkannya seperti Ignasius Jonan ngembangin KAI. 

Baca juga cerita : Naik kereta api tut tut tut 

Nah balik lagi ke Jatinegara dari kantor pos kita lanjut ke kelenteng yang hidden banget sih ini abis menyusuri gang kecil dari Sate Keroncong yang konon katanya sate kambing yang enak banget dan dalamnya itu kayak rumah - rumah baru gitu yang mungil dan rapih terus ujung gang ini kelenteng Vihara Amurva Bhumi 福德宮 yang konon merupakan vihara tertua di Jaktim dan tertua kedua di Jakarta setelah Jin De Yuan di Pecinan Glodok. Vihara ini udah ada dari 1688. 

Di area kelenteng ini masih banyak rumah - rumah peninggalan china dulu terlihat dari atapnya yang masih dipertahankan sampai sekarang mungkin lintas generasi kali ya. 

Baca juga cerita : Sejarah Chinatown Glodok 




Jalan dikit uda sampai di pasar Jatinegara yang banyak jajanan-nya itu. Kalau nyadar nama pasar dari Pasar Senen, Pasar Minggu, Pasar Rebo penasaran gak sih kenapa nama pasar pakai hari? Jadi dulu setiap pasar ada hari buka-nya gak setiap hari kayak pasar - pasar sekarang kalo dulu gini :

  • Senin - Pasar Senen
  • Selasa - Pasar Koja
  • Rabu - Pasar Rebo
  • Kamis - Pasar Jatinegara
  • Jumat - Pasar Jumat 
  • Sabtu - Pasar Tanah Abang (tungguin next post tentang sejarah Tenabang)
  • Minggu - Pasar Minggu 

Jajanan yang terkenal disini cakwe dengan saos kacang yang digoreng pakai wastafel cuci piring, combro, kue soes, es tebak (seperti cendol tapi warna putih), kue lapis legit, lalu uniknya disini yang jualan ketupat seabrek tapi sebelahan sama yang jual sekba bingung ga tuh 😌 Kalau menrutku dibanding pasar besar lain yang pernah kudatengin ini agak kotor dan berantakan kayak gak ter-tata terus sampahnya di beberapa tempat jadi agak bau. Terus pas jalan di gang ada karpet jatoh dari atas pas di hadapanku dong kalo maju dikit lagi udah kena deh gue hmmm jangan lupa berdoa tiap keluar rumah yea.


Kalo yg ini dinamain gang tai soalnya dulu disini ada saluran irigasi yang ujungnya ada pupup ges hehe







Jadi rekomen gak route ini? Menurutku harus coba sih karena gak sesuai pikiran aja kalo Jatinegara kek gini. See you on next story karena di libur lebaran ini tiap hari aku akan punya tempat explore baru haha.