Sunday, May 7, 2023

Bobobox Semarang Kota Lama | Jawa Tengah, Indonesia

Finally the time is coming yeay! It was on my bucket list to try out Bobobox since months back. Bobobox have 2 type actually, Bobocabin (cabin build in the middle of nature) and Bobobox which is a capsule backpacker hostel. 

Why I want to try this out actually 2 reasons : I try The Pod Singapore in 2015 and its convenience enough but at that time Indo not yet have this kind of capsule hostel, so when Bobobox here I wanna give a try. Another reason is the location very convenience, Semarang one is in the heart of Kota Lama. What a good deal. 

Read : The Pod Singapore Review

Read : Work Inn Taipei Backpacker Hostel Review



Parking area

I booked through Agoda for IDR 200K per night - its a bit high due to long weekend usually for single pod its around 1xx. 



You will be asked to download Bobobox app, it use to verify your identity, open the door (both public space & pod door use QR code on the app to open), contact the receptionist through chat on the app, set pod lamp color. 


Bobobox has 2 pods type : sky pod (upper deck) & earth pod (bottom deck) that you can choose when book. And it feels better than usual capsule pod, it has the door and more privacy as you can lock the door through the app and have little space to put your belongings. 



Inside the pod you will have this panel with speaker that can play forest & river ASMR... OMG so tempting for healing I really enjoy this speaker. Also to switch the lamp and check the clock. A next level of backpacker hostel I think.  


Also you will have this mini blind to cover the mini window. Ahh and the charger in this picture I borrow it from the receptionist bcs I just realize I forget to bring the charger and its FREE. Very helpful Bobobox.



Shared bathroom separate within woman & man also shower room separate with toilet. 3 of each in each bathroom with 2in1 shampoo & soap also hairdryer.


You will get towel on the pod & toothbrush kit upon check in with slippers also. Slippers is a single use slipper that very thin and not comfortable for me, but they rule is to put your shoes on the locker in front of receptionist and wear that slippers inside Bobobox. This slippers is the minus point during my stay. 


Reception also have sanitary napkin (pembalut), ready-to-eat meal, and other amenities that in general people need, they sell it. What a convenience thing. 

And the happiest thing is they have dispenser to refill water yeay! Ohh they didn't provide any cup or water bottle so bring your own and refill here

In the public area also have little kitchen comes with sink, microwave, and other few kitchen stuff. 


Overall I enjoy my stay and worth the money as its less effort to commute & what you need is all here and very simple one. Thanks Bobobox and thanks for borrow me charger haha. 




Saturday, April 8, 2023

Gimana biar punya karir yang keren?

Finally after months bisa ada waktu buat duduk tenang dan nulis lagi --- so happy inside. Sesuai dengan janji aku di instastory beberapa waktu lalu kali ini mau bahas tentang per-karir-an, apa sih yang mau dibahas? Sebenernya lebih ke sharing update sih, ada 2 point of view yang aku mau sharing kali ini, pertama dari sudut pandang ortu akan karir anaknya, kedua tentang pertanyaan yang lately dateng ke aku yaitu gimana biar tau karir apa yang ingin dituju. 

Oh iya aku akhirnya bikin menu Career & Path biar kalian kalo mau baca lebih gampang buat liat kumpulan tulisan - tulisan tentang karir, pekerjaan, dan teman - temannya. Klik sini ya. 

Nah kalian bisa klik di menu tab : Career & Path

Yang keren ke Europe, Amrik, Aussie, Singapore, atau China Taiwan sih kalau kerja? 

Well, ini aku langsung bisa asumsi yang nanya belum open minded dan kurang "main" ke luar zona-nya, hehe, mon maap tapi ini pertanyaan yang most-likely akan di tanya sama orang yang men-generalisir istilah kerja di luar negeri. 

Ini jawaban aku : 

1. Keren itu kan nempel di manusia-nya ya ges, bukan di country-nya. Coba deh misal ditanya keren-an mana jadi CEO di Taiwan apa jadi staff di Europe? Keren-an mana jadi professional di Indo sama jadi admin di Taiwan? 

Gini ya, kalo kamu mau tanya kerenan mana, menurutku itu tergantung jadi apa & orangnya seperti apa dulu. Susah kalo kamu cuman liat negara-nya maju aja, kalo negara-nya maju lalu seantero orang yang kerja di negara itu pasti makmur semua? Nggak kan. 

Kalo negara berkembang,  lalu apakah di Indo gak banyak orang - orang pinter yang melambung karirnya yang keren banget? 

2. Kenapa aku bilang yang nanya itu orang yang kurang "main" ke luar zona-nya, karena masing - masing negara punya "market"-nya sendiri. Coba ya orang yang fasih bahasa inggris gak bisa mandarin, terus kamu bilang eh kerenan kerja di China tau cap cis cus, ya itu gak akan masuk di dia karena dia gak bisa mandarin lalu gimana dia bisa "merangkak" dengan cepat? Komunikasi aja susah. Lalu kalo dia orang yang fasih mandarin terus kamu bilang, ah China mah gak keren, yang keren itu di Europe, itu namanya kamu ngomong ke ikan, yang keren itu manjat pohon, ngomong ke monyet, yang keren itu berenang. 

Kalo orang yang cuman pernah liat ikan berenang, gak pernah liat monyet manjat, sekali dia liat monyet manjat dia akan bilang, ah lu gak keren, tuh kerenan mah berenang ---- ngerti kan sekarang kenapa aku bilang orang seperti ini kurang "main" 

3. Jadi jawaban aku adalah : Kenali plus minus diri kamu dan kembangkan sesuai tempatnya. Contoh ya aku gak akan tertarik berkembang di Jerman misalnya, karena aku bahasanya aja gak paham, kenapa aku gak berusaha untuk berkembang di tempat yang aku emang bisa berkembang dan bukan malah mencoba hal yang emang bukan ranah aku dan cuman wasting time gak berarah?

Aku gak tau nih aku mau kerja apa dan ngapain? 

Hmmm, ya aku juga gak tau ges kan kalian sendiri aja gak tau kalian maunya apa haha. Gini ya, aku sering bilang ke team aku kalo kamu sendiri gak tau kamu maunya apa yang gak ada yang bisa bantu even kamu juga gak bisa bantu diri kamu sendiri. Lah orang gak tau maunya apa ya berarti apapun yang kamu kerjakan juga sia - sia sebenernya. 

Gini ibarat kamu mau pergi ke kota A, berarti usaha kamu dari naik bis naik kereta jalan kaki semua akan mengarah ke si kota A dong biar makin lama makin deket kota A, cepet sampai. 

Nah sekarang kamu kan gak tau mau ke kota mana jadi kamu naik bisa juga gatau arah yang mana kan, jadi yaudah sia - sia aja dong entah udah naik bis dari utara ke barat, eh naik kereta barat ke utara lagi yaudah muter - muter aja. 

Jadi, kamu harus tau dulu apa yang ingin kamu capai baru step by step melangkah kesana. 

Kalo kerja itu company-nya harus yang besar ke makin besar dong ya, kalo gak namanya karir turun?

Nah ini sebenernya tergantung apa yang kamu kejar. Pride kah, benefit kah, kenyamanan kah, pulang cepet kah? Jadi harus clear dulu yang kamu mau apa. Kalo misal emang yang kamu kejar adalah pride di perusahaan besar, ya walau dapet benefit lebih besar di start-up kamu gak akan happy, vice versa. 

Apa blocker para milenial zaman now dalam karir?

Terlalu terpaku dengan yang keren tapi bukan yang realistis. Lately sering baca gak banyak korban lay-off dari company tech start-up or ecommerce dan temen - temennya yang after lay-off susah dapet kerja. Nah menurut pengalamanku kemarin interview beberapa orang yang sejenis : 

1. Bisa kamu beruntung dengan segala idealisme kamu dapet kerjaan yang kemarin. Kemarin adalah kemarin, setiap era masa-nya beda. Kemarin ecommerce lagi "bakar duit", lalu apakah selamanya akan di era itu? Ya realistis aja apa yang kamu minta sebanding gak sama apa yang kamu bisa kasih? 

2. Kebanyakan kemakan doktrin idealisme : Harusnya ABCDE baru deh kita bisa deliver sesuatu yang bagus. Lalu apakah jaminan kamu bisa deliver sesuatu yang bagus? Itu kayak ibarat : Mak kasih pen parker crayon lengkap cat air lengkap baru saya bisa sekolah nilai bagus. 

3. Ingin yang terlihat indah sebagai pride tapi gak realistis. Coba posisikan diri kamu as the founder or your lead what you will do when you see someone like you? Nah lakukan itu dan kamu akan menemukan jawabannya. 

Sunday, January 22, 2023

Unlock Dieng Plateau | Jawa Tengah, Indonesia

Add on one more unlocked place, DIENG PLATEAU!!!!! Finally I got chance to visit Dieng after several years it park on my bucket list. Dieng terkenal dengan nama Dieng Plateau, sesuai namanya plateau means highland aka dataran tinggi. Jadi Dieng adalah sebuah desa di Wonosobo, Jateng yang terletak di ketinggian 2,150 meter diatas permukaan laut. Nah yang keluar pertama pasti : wiii dingin dong. Yakkk betullll sekaliiii!!!!! Udah serasa winter brrrr.

Gimana cara menuju Dieng? Yang pasti harus by darat ya secara harus naik naik ke puncak gunung. Ada beberapa cara menuju Dieng, soalnya kaki gunungnya kebagi di beberapa kecamatan tapi yang paling banyak adalah lewat Wonosobo, seperti cara aku kali ini. 

Jakarta - Wonosobo lewat tol kayak ke Semarang, kurleb kemarin 9 jam perjalanan termasuk berhenti rest - area 2x. Dari keluar tol sampai ke kaki Dieng itu jalanannya meleok - leok pegunungan sekitar 3-4 jam (ini udah termasuk di dalam total 9 jam perjalanan). 

Rest area pertama, jam 11 malam, minum teh panas di Karawang

Rest area tol Semarang sebelum keluar tol dan lewatin jalanan lika liku. Wedang uwuh 20rebu tapi enak beut beneran seger.

Sampai di kaki Dieng itu ada masjid besar dengan parkiran besar juga. Ini tempat para bis besar parkir. Kenapa? Karena untuk naik ke Dieng pakai shuttle lokal, kayak mini bus isi 15 orang gitu. Nah aku gak tau ini aturan yang dibuat oleh penduduk local atau gimana tapi kalo baca - baca penginapan di Dieng pun juga owner-nya gak pasang di online booking, kalo ada itu berarti dari calo. Ya intinya menggerakan ekonomi local gitu kali ya, tapi karena itu aku jadi merasa exclusive bisa dateng ke Dieng hehe. 

Ini minibus lokal yang jemput kita di mesjid tempat parkir bis gede

Kemarin banyak ketemu mobil sedan plat B juga, tapi saran sih lebih baik join trip aja, kenapa, karena : 

  1. Jalanan-nya gak mulus meleok - leok, dan nanjak-nya lumayan, pas turun ketemu sama mobil yang gak kuat nanjak dan jadi pemicu kemacetan
  2. Dingin booo mager banget gerak apalagi nyetir harus konsen 
  3. Pemandangannya indah jadi lebih enak menikmati ketimbang nyetir 

Nah selain alasan diatas, kali ini overall trip yang aku join udah include makan 3x + homestay (ya jangan expect terlalu tinggi untuk homestay yang ada ya haha), tapi dengan 850k udah include semua transport oke banget sih dan tiket2 masuk objek wisata. 

First meal di Dieng, aka breakfast

Cuaca Dieng dingin banget dan katanya kalo summer, malah bisa ada salju or rumputnya jadi es. Jadi kesini prepare your winter weapon guys! 

First stop kita ke Dieng Theatre buat nonton film sekitar 15 menit tentang kisah Dieng, bagus sih jadi tau gimana Dieng dulu pernah meletus dan asal usul nama Dieng yang berarti Khayangan. 

Yang banyak parkiran mobil, disitulah Dieng Theatre

Lalu ke Batu Pandang Ratapan Angin : disini bisa liat telaga warna tapi ujan dan dingin waktu itu. Cuman tempat di atasnya bagus banget sih terus ada warung di tengah jalan menuju puncaknya, warungnya kusuka banget. Berasa feel-nya sambil menikmati teh panas. 





Ini warung yang ku maksud

Yang kusuka di Dieng ya harga - harganya gak ngetok, beneran affordable kayak teh panas 3 ribu makan juga gak mahal sejenis gitu lah. Traveler friendly I can say. Terus kalo kedinginan bisa beli sarung tangannya juga cuman 10rebuan.

Pemandangan dari dalem homestay


Makan siang di homestay, kenapa ya kerupuk Dieng khas yang warna warni ini

Nah abis itu kita ke Kawah Sikidang, mungkin ini konsepnya kayak Kawah Putih tapi versih lebih wow-nya. Apanya yang wow, gunung - gunung di balik kawah ini kayak berasa gagah besar gitu, terus jalur jalan kakinya pun rapih terawat gitu seneng banget sih kesini kayak ter-maintain baik terus jalan keluarnya bakal melewati banyak UMKM yang menggiurkan, kayak jualan carica (pepaya muda khas dieng), kentang goreng, sangon, sampai buku - buku bekas. 






majestic gitu gak sih berasanya, aslinya lebih berasa lagi karena luas gitu dan tinggi - tinggi tebing sekelilingnya



Ketemu bunga ini beberapa kali tadinya kira kayak kol dari jauh


Air disini kalo blubub blubub soalnya ada sumber gas gitu di tanahnya

Kayak di surga gitu belakangnya



Disini pertama kali nyobain sagon, kudu beli yang rasa original yang beneran cuman gula pasir enak banget, 5rebuan aja



Banyak yang jual kentang goreng juga soalnya katanya legit kentang Dieng tuh

Next, Candi Arjuna. Sejujurnya aku gak berasa ada yang menarik sih karena disini cuman beberapa candinya terus lapangan besar gitu aja udah. 



Yang seru adalah chasing sunrise dari Bukit Sikunir. Nah buat menuju Bukit Sikunir harus jalan jam 3 subuh dari homestay buat rebutan parkiran atas karena kalo udah penuh, mobilnya cuman bisa dari parkiran bawah. Nah dari parkiran bawah harus melewati parkiran atas dulu baru mulai pintu nanjak. Nanjaknya sekitar 30 menit jalanan-nya bebatuan tangga - tangga gitu. Sayangnya kita dapetnya cloudfoam bukan sunrise tapi gak papa pengalamannya yang berharga cieeee


Nih begitu sampai omigot dingin bukan main dan parkiran udah lumayan penuh

Indomie dulu


Kebayang nih kayak di nirwana


Baju lapis 3 yes 


Jadi dari semuanya apa yang bikin aku bisa suka sama trip Dieng ini padahal dingin dan hujan?Experience dan road trip-nya guys beneran seru dan pemandangannya indah banget. 

Depan homestay ada si mbok iki yang jual Sagon, duh enak banget pas anget - anget beneran


5rebuan aja beneran enak, ini kayak ketan + kelapa + gula pasir --- makanan tradisional Dieng

Oh ya kalian juga boleh cobain purwaceng ini purwaceng susu, rasanya sih kayak beras kencur gitu --- minuman khas Dieng