Sunday, January 22, 2023

Unlock Dieng Plateau | Jawa Tengah, Indonesia

Add on one more unlocked place, DIENG PLATEAU!!!!! Finally I got chance to visit Dieng after several years it park on my bucket list. Dieng terkenal dengan nama Dieng Plateau, sesuai namanya plateau means highland aka dataran tinggi. Jadi Dieng adalah sebuah desa di Wonosobo, Jateng yang terletak di ketinggian 2,150 meter diatas permukaan laut. Nah yang keluar pertama pasti : wiii dingin dong. Yakkk betullll sekaliiii!!!!! Udah serasa winter brrrr.

Gimana cara menuju Dieng? Yang pasti harus by darat ya secara harus naik naik ke puncak gunung. Ada beberapa cara menuju Dieng, soalnya kaki gunungnya kebagi di beberapa kecamatan tapi yang paling banyak adalah lewat Wonosobo, seperti cara aku kali ini. 

Jakarta - Wonosobo lewat tol kayak ke Semarang, kurleb kemarin 9 jam perjalanan termasuk berhenti rest - area 2x. Dari keluar tol sampai ke kaki Dieng itu jalanannya meleok - leok pegunungan sekitar 3-4 jam (ini udah termasuk di dalam total 9 jam perjalanan). 

Rest area pertama, jam 11 malam, minum teh panas di Karawang

Rest area tol Semarang sebelum keluar tol dan lewatin jalanan lika liku. Wedang uwuh 20rebu tapi enak beut beneran seger.

Sampai di kaki Dieng itu ada masjid besar dengan parkiran besar juga. Ini tempat para bis besar parkir. Kenapa? Karena untuk naik ke Dieng pakai shuttle lokal, kayak mini bus isi 15 orang gitu. Nah aku gak tau ini aturan yang dibuat oleh penduduk local atau gimana tapi kalo baca - baca penginapan di Dieng pun juga owner-nya gak pasang di online booking, kalo ada itu berarti dari calo. Ya intinya menggerakan ekonomi local gitu kali ya, tapi karena itu aku jadi merasa exclusive bisa dateng ke Dieng hehe. 

Ini minibus lokal yang jemput kita di mesjid tempat parkir bis gede

Kemarin banyak ketemu mobil sedan plat B juga, tapi saran sih lebih baik join trip aja, kenapa, karena : 

  1. Jalanan-nya gak mulus meleok - leok, dan nanjak-nya lumayan, pas turun ketemu sama mobil yang gak kuat nanjak dan jadi pemicu kemacetan
  2. Dingin booo mager banget gerak apalagi nyetir harus konsen 
  3. Pemandangannya indah jadi lebih enak menikmati ketimbang nyetir 

Nah selain alasan diatas, kali ini overall trip yang aku join udah include makan 3x + homestay (ya jangan expect terlalu tinggi untuk homestay yang ada ya haha), tapi dengan 850k udah include semua transport oke banget sih dan tiket2 masuk objek wisata. 

First meal di Dieng, aka breakfast

Cuaca Dieng dingin banget dan katanya kalo summer, malah bisa ada salju or rumputnya jadi es. Jadi kesini prepare your winter weapon guys! 

First stop kita ke Dieng Theatre buat nonton film sekitar 15 menit tentang kisah Dieng, bagus sih jadi tau gimana Dieng dulu pernah meletus dan asal usul nama Dieng yang berarti Khayangan. 

Yang banyak parkiran mobil, disitulah Dieng Theatre

Lalu ke Batu Pandang Ratapan Angin : disini bisa liat telaga warna tapi ujan dan dingin waktu itu. Cuman tempat di atasnya bagus banget sih terus ada warung di tengah jalan menuju puncaknya, warungnya kusuka banget. Berasa feel-nya sambil menikmati teh panas. 





Ini warung yang ku maksud

Yang kusuka di Dieng ya harga - harganya gak ngetok, beneran affordable kayak teh panas 3 ribu makan juga gak mahal sejenis gitu lah. Traveler friendly I can say. Terus kalo kedinginan bisa beli sarung tangannya juga cuman 10rebuan.

Pemandangan dari dalem homestay


Makan siang di homestay, kenapa ya kerupuk Dieng khas yang warna warni ini

Nah abis itu kita ke Kawah Sikidang, mungkin ini konsepnya kayak Kawah Putih tapi versih lebih wow-nya. Apanya yang wow, gunung - gunung di balik kawah ini kayak berasa gagah besar gitu, terus jalur jalan kakinya pun rapih terawat gitu seneng banget sih kesini kayak ter-maintain baik terus jalan keluarnya bakal melewati banyak UMKM yang menggiurkan, kayak jualan carica (pepaya muda khas dieng), kentang goreng, sangon, sampai buku - buku bekas. 






majestic gitu gak sih berasanya, aslinya lebih berasa lagi karena luas gitu dan tinggi - tinggi tebing sekelilingnya



Ketemu bunga ini beberapa kali tadinya kira kayak kol dari jauh


Air disini kalo blubub blubub soalnya ada sumber gas gitu di tanahnya

Kayak di surga gitu belakangnya



Disini pertama kali nyobain sagon, kudu beli yang rasa original yang beneran cuman gula pasir enak banget, 5rebuan aja



Banyak yang jual kentang goreng juga soalnya katanya legit kentang Dieng tuh

Next, Candi Arjuna. Sejujurnya aku gak berasa ada yang menarik sih karena disini cuman beberapa candinya terus lapangan besar gitu aja udah. 



Yang seru adalah chasing sunrise dari Bukit Sikunir. Nah buat menuju Bukit Sikunir harus jalan jam 3 subuh dari homestay buat rebutan parkiran atas karena kalo udah penuh, mobilnya cuman bisa dari parkiran bawah. Nah dari parkiran bawah harus melewati parkiran atas dulu baru mulai pintu nanjak. Nanjaknya sekitar 30 menit jalanan-nya bebatuan tangga - tangga gitu. Sayangnya kita dapetnya cloudfoam bukan sunrise tapi gak papa pengalamannya yang berharga cieeee


Nih begitu sampai omigot dingin bukan main dan parkiran udah lumayan penuh

Indomie dulu


Kebayang nih kayak di nirwana


Baju lapis 3 yes 


Jadi dari semuanya apa yang bikin aku bisa suka sama trip Dieng ini padahal dingin dan hujan?Experience dan road trip-nya guys beneran seru dan pemandangannya indah banget. 

Depan homestay ada si mbok iki yang jual Sagon, duh enak banget pas anget - anget beneran


5rebuan aja beneran enak, ini kayak ketan + kelapa + gula pasir --- makanan tradisional Dieng

Oh ya kalian juga boleh cobain purwaceng ini purwaceng susu, rasanya sih kayak beras kencur gitu --- minuman khas Dieng


Saturday, November 19, 2022

24 hours in Bandung

It's not so me to visit Bandung and spend weekend here haha. As you guys know I always want to visit some places I haven't been before. But here I am, where I don't have annual leave yet but I want a trip that not too hectic. Then I visit Bandung again after years :) 

I spend 24 hours in Bandung and I think I felt different after that haha. 

It was raining on part of my hours in Bandung but it made me feel so "bandung" like it's very artistic town with the local radio back sound. 


And here how I enjoy the Bandung city and its culinary for 24 hours. 

The first stop was Coffee at The Barn. So original plan we want to have lunch at Kampung Daun but it turns out with long queue and I saw a place nearby that attract my eyes. So here we are at Coffee at The Barn, hidden gems here that we loved. 



The ambience is very homey and so "bandung", the food is good and OMG I love the bandrek so so so much. 



In frame : Rawon Panggang, Iga Bakar, French Fries, Bajigur, Lemon Tea, Bandrek

The most delicious bandrek I've ever eat in Bandung

Here is the menu, affordable, clean, and delicious


So happy to found this local legendary breakfast called Cakwe Lie Tjay Tat. It located in GOR so it's convenience to parked your car. And I love the ambience. They sell this cakwe since 1932 OMG so legendary. 


In frame : Bubur Ayam, Pitan, Kopia isi, and free hot tea

I recommend the bubur ayam with pitan, kopia is too dry. Cakwe is soft and tasty. But the one that you need to try when come here was kuotie beside. 

The kuotie is too delicious OMG

Kuotie goreng : 5k/each

Well, I always find batagor when in Bandung and this time I tried Batagor Riasari besides Primarasa. It taste like pempek for me, too fishy, quiet different with others Bandung batagor but it's really delicious and that's why it's pricey : 3 for 45k.



My first try for this famous Nasi Goreng Cek Acong Bandung. Suggest you to order this by grabfood since it has discount and you don't need to rush for queue. I try samcan version since I don't like kuping babi but for me the fried rice is not enough smokey & too wet. 

45k enough for 3 person portion haha

And last but not the least is Dapur Dahapati. I see so many people say this is the must visit when in Bandung, literally they sell oxtail soup. The variant menu not much so if you don't like oxtail then just ignore this haha. 



And it's activate my travel soul, let's go to the next destination. 

See you on next journey!



Sunday, July 3, 2022

Company Zaman Now Kenapa Sih?

Di pagi yang gloomy ini bersama secangkir teh panas akhirnya kekumpul niatan untuk nulis sebelum pergi nanti, eaa kalo udah niat dan ide keluar ternyata nulis itu cepat haha. 

Jadi sebenarnya postingan ini di dedikasi kan untuk yang pengen tau perkembangan dunia kerja zaman now apa sih berdasarkan sudut pandang manusia yang merasakannya langsung which is me <3 No judging or theoritical based, just based on what I experienced yaaa

Disini kita setarakan dulu penyebutan-nya : 

  • Conventional / Corporate : Company yang industri-nya udah dari jaman baheula, misalnya pabrik, distributor, etc 
  • Start-up : Company yang masih muda yang baru mulai merintis usahanya tapi gak selalu scale kecil, ada juga yang scale pertumbuhannya pesat
  • Company zaman now : Yang bisnis-nya baru muncul lately dan isinya mostly anak muda, misalnya ecommerce, qcommerce, insurtech, healthtech, etc 

Kita mulai dari conventional yang kalian lebih familiar, for years gw bertengger disini, yang isinya udah kerja 10 tahun 15 tahun yang lama - lama pokoknya. Ya secara industri ini aja mungkin almost hundred years jadi otomatis orang - orang yang menduduki posisi top juga yang udah berumur. 

Untuk lini conventional itu masih baku & kaku karena udah punya standard tersendiri, misalnya you will get your annual leave after 1 year working, gap komunikasi up & downstream lebih kaku yang pak, bu, permisi - haha, checkrol pakai finger print, kalau kerja disini 2 tahun minimal, 1 tahun di anggap gak sanggup bersaing, kalau udah keluar dari sini masuk lagi kesannya taboo, culture lebih tertutup each other. 

Kalau memilih untuk ber-karir di ranah conventional, loyalitas itu penting so how you can beat others, salah satunya itu, dan career plan-nya managerial. Staff - Specialist - Manager - Director, ini gimana you will growth in career wise. 

Manager so pasti benefit di atas Specialist, kalau kamu Specialist mau naik jadi Manager ya so pasti harus punya managing skill. 

Senioritas-nya lebih terasa karena ya emang how you will growth your career beneran lewat level - level managerial ini, jadi kalau udah di satu posisi pasti lebih di hargai dan udah bisa ngoceh - ngoceh ke anak buah kasarannya hahaha

Nah yang jauh beda adalah dengan company zaman now, sebenernya orang - orang suka menyebutnya start-up, tapi gw disagree ya karena gak semua company zaman now itu start-up, misalnya Grab, GoTo, itu kan udah gak start-up dan ada juga company start-up yang masih jadul. 

Oke, disini kita fokus bahas ke company zaman now dulu, yang misalnya ecommerce, tech, etc intinya company yang industri-nya baru ada beberapa tahun belakangan ini. Company zaman now ini lebih erat hubungannya sama dunia IT, karena apa - apa udah teknologi kan sekarang. 

Bedanya apa sih sama conventional? Isinya yang paling lama masih <10 years, gak berasa senioritasnya, lebih flexible dari jam kerja misalnya WFA, bebas mengekspresikan diri sendiri, gak main loyalty. 

Karena isinya semua juga kerja masih beberapa tahun jadi sebenernya belum berasa loyalitasnya dan lumrah untuk kerja 1 tahun 2 tahun pindah kantor baru (biasanya kalau profile proper culture-nya main hijack antar company even bukan competitor), resign itu hal biasa, even saking terbuka-nya bebas aja kalau resign udah kasih tau mau kemana dan sedang dalam proses apa, sebegitunya loh guys, karena ga ada yang berasa masalah. 

Nah yang penting lagi disini career growth-nya gak cuman managerial level seperti conventional tapi ada professional level. Kalau managerial sama seperti conventional, kalau professional itu lebih ke orang yang expert di bidang tertentu atau dia punya skill tertentu. 

Bedanya apa? Kalau managerial disini adalah me-manage, mengatur pekerjaan individual contributor, tapi kalau professional dia gak butuh mengatur manusia lain, cukup pekerjaan yang menjadi tanggungannya. 

Nah kalau misalnya professional atasnya ada manager nih, apakah manager itu pasti benefit & level lebih tinggi dari bawahannya? NGGAK. Professional bisa aja benefit dan level di atas si manager tersebut, karena manager tugasnya me-manage, tapi bukan menonjolkan skill khusus. 

Yah terus kalo gitu gak di hargain dong manager-nya? Ya nggak juga, ini balik ke preference masing - masing kalau kamu orangnya haus akan tahta pasti lebih seneng managerial karena ada tahta toh, kalau profesional gak bisa ngatur - ngatur orang gak punya kekuasaan. 

Tapi kalau kamu lebih suka belajar hal baru terus dan mager ngurusin hidup orang HAHA kamu lebih cocok di jenjang karir profesional. 

Jadi misal gini, M & P sama - sama 40 tahun, M jenjang karir managerial sampai jadi Direktur di usia 40 tahun, P jenjang karir profesional di usia 40 tahun tetap individual contributor, benefit P bisa lebih dari M yang secara kasat mata punya tahta, ini hal yang lazim guys di company zaman now. 

Nah panjang lebar di atas, mengerucut ke statement yang kenapa di company zaman now senioritas gak terlalu kelihatan karena masing - masing individu dinilai sesuai tempatnya, even situ senior manager, ya mungkin aja benefit dia yang engineer di atas kamu. 

Perbedaan yang significant juga, company zaman now lebih mengedepankan employee branding. Gimana biar banyak talent yang mau join company ini dengan komunikasi 2 arah. Kalau di conventional berasanya candidate yang butuh banget ini company, tapi kalau di company zaman now, keduanya saling membutuhkan, proses interview pun 2 arah, company interview candidate, candidate juga interview company. 

Nah kalau sekarang kamu jadi tau dan terbuka kan perubahan market talent di company zaman now, kenapa banyak yang lebih suka kerja di company zaman now, ya balik lagi sih preference masing - masing berbeda, dan keliatannya dengan hidup yang lebih mudah di zaman sekarang lebih sedikit anak muda yang mau menyentuh ranah conventional. 

Gw pernah tulis postingan ini sebelumnya, tentang apa yang sebenernya jadi prioritas yang kamu pilih untuk karir kamu, boleh baca if you havent read it haha : What do you care the most in your job? 

Jadii kalau sekarang kamu liat kenapa sih dia ganti - ganti kerjaan terus, kenapa sih dia kok kerjanya kayaknya kekinian banget, dan sebagainya kamu udah paham kan, karena dulu ku juga gak tau sama hal - hal seperti ini apalagi kalau bilang ke generasi di atas kita sulit buat mereka mengerti kenapa ini jadi hal yang lazim hehe

Well, let's open for any discussion if you have jadi kita bisa bahas lebih dalam lagi. 

Happy Sunday!!!